Saman by Talitha Amalia Zafira

Namun binatang tidak menghafal pohon-pohon karena namanya, seperti sekor induk atau sepasang tidak memanggil tetesannya atau susuannya dengan nama.

Mereka mengenal tanpa bahasa.

- Ayu Utami

Perlahan by Talitha Amalia Zafira

Ada perasaan janggal ketika pagi ditutupi awan namun matahari masih berusaha mengintip dari celah

Ingin kau sibak awan itu

Namun tak kuat

Gemuruh di dadamu menjelma isak yang membasuh rumput

Dan kau menangisi apa yang kau pendam semalaman

Tidak ingin hanyut

Maka kau biarkan angin mengiringi rintihan mu agar tak terdengar

Perlahan

Kau bisikkan kepada ranting agar tak runtuh menahan butir pinta mu

Pinta untuk menikmati sinar pagi itu

Aksara Rabu: Langkah by Talitha Amalia Zafira

Langkah kaki itu mengucap maaf kepada yang tertinggal

Langkah kaki itu terburu-buru meninggalkan ruang yang kau diami sejak tadi malam

Tanpa cerita

Tanpa suasana

Dan kau hangus dibawa merdunya malam yang bersenandung lepas

Tidak ada yang mengantar langkah itu pergi

Hanya jejak di tanah basah pagi yang kau sirami

Tidak ada yang mendekap

Tidak akan ada yang mengingat



Langkah kaki itu tidak menoleh ke belakang

Ia tahu yang tlah lalu bukan untuk diingat

Melainkan untuk dipelajari

Dan ditertawai

 

Candra dan Pelita (II) by Talitha Amalia Zafira

"Bangun"
Tapi mata Pelita masih tertutup
Dan daun begitu tabah
Menahan dingin embun yang masih bersandar disisinya
Ada anak-anak yang menunggu Pelita untuk membangunkan mereka dalam selimut
Dinginnya fajar itu menarik mereka untuk terlarut


Lelap
Tersungkur

"Kalau sudah terlambat bagaimana?"
Janji Pelita pada Candra,
Tidak ada waktu yang akan ia buang sia-sia
 

"Bangun"

Dalam dingin,

Candra terus memanggil Pelita yang masih tenggelam

Aksara Rabu: Dalam Hari by Talitha Amalia Zafira

Ada hari yang masih terlipat rapat dan belum siap kau buka

Tidak kau gubris malam yang juga ingin tidur pulas

Lentera itu tahu apa yang kau kerjakan semalaman

Dalam khusyu' ia mendoakan agar apa yang kau harap terkabulkan

 

Ada hari yang tidak sabar kau nanti kedatangannya

Malam pun menyampaikan salam selamat tidur kepada kau yang masih terjaga

Garis sinar di jendelamu memberikan tanda bahwa ia siap menjaga

Dalam hangat ia menyapamu untuk membuka mata

 

Ada hari yang telah kau tata rapi pada hari-hari sebelumnya

Masih ada buih hari lalu yang muncul di permukaan

Tapi daun-daun kering di halaman rumahmu tidak sabar kau sapu

Dalam embun mereka berupaya mengikis yang telah lalu

 

Ada hari yang ingin kau simpan sendiri

Tanpa yang lain perlu mengetahui

Kantung kemeja mu meringis menyaksikan harapan-harapan yang kau bungkus dan letakkan didalamnya

Dalam dalam

Aksara Rabu: Tentang Pergi by Talitha Amalia Zafira

Diresapinya dingin itu

Sekujur tubuh

Ada yang tahu sesaat lagi adalah kepergianmu

 

Tentang pergi,

Akan ada sunyi yang basah oleh apa yang mengalir di wajahmu

Akan ada yang bertanya, "Kapan kembali?"

Waktu pun tersenyum tidak mau menjawab

Karena bukan dirinya yang mengetahui

 

Tentang pergi, 

Akan ada sepi yang menggetir di ruang itu

Akan ada yang bertanya, "Apakah mimpi yang membuatmu pergi?" 

Angan pun terdiam tidak mau menjawab

Karena bukan dirinya yang menjadi alasan

 

Dengan pelan tanah itu menarikmu untuk menetap

Tapi langit menarikmu untuk menolak

Kau biarkan detik-detik di jam itu melambaikan selamat jalan

Karena bukan tangan-tangan itu yang sanggup melakukan

 

Tentang pergi, 

Ada pesan yang belum tersampaikan

 

 

 

Aksara Rabu: Diri by Talitha Amalia Zafira

Nafsu dan malas menggerogoti punggung untuk merebah
Bukan keringat sendiri yang aku makan
Tersulut ketika ada yang berbisik dari belakang
Mengeluh ketika diberi beban
Mundur ketika bersanding dengan yang rupawan

Sedangkan yang disana menggontong air demi satu tegukkan
Aku disini membuang
Sedangkan yang disana meniti jembatan untuk mengenal eksakta
Aku disini terlena

Ada misi yang diturunkan oleh Tuhan pada tiap ciptaan Nya, bukan?
Tapi apa yang telah aku lakukan?

Gertak aku

Tolong sibak awan hitam yang berkumpul ini
Juga kotor yang terperangkap di pikir
Tarik mulutku untuk terus tersenyum
Buka tanganku untuk memberi
Dan jalankan kaki ini ke tempat-tempat yang terbaik

"Bergerak!"

Aku takut tersandung

Rintik by Talitha Amalia Zafira

Langit menggelitik hujan yang terhimpit untuk berbaring

Di kampung halaman mu kuciptakan rindu dengan gerimis yang mengiring

Aku mengadah

Mengirimkan rindu kepada rintik

Agar ia turunkan wujud mu disini

Bukan untuk menumbuhkan sepi

Brain Drain (Degradasi) by Talitha Amalia Zafira

Banyak kaki yang melangkah keluar untuk berlari

Banyak nafas yang tersekat mendesak keluar untuk mencari jati diri

Banyak jiwa yang terikat memilih untuk terbang keluar membebaskan hati

Tapi mengapa bukan untuk kembali?

 

Banyak diantara kami yang ingin membangun negeri

Banyak diantara kami yang ingin mengabdi

Banyak diantara kami yang ingin berkreasi di negeri sendiri

Tapi mengapa masih banyak diantara kami yang tidak diapresiasi?

 

Disini aku melihat lukisan dari jarak yang jauh

Melihat perantau yang tidak diberikan marwah oleh pertiwi

 

Ranah Sujud by Talitha Amalia Zafira

Disaksikan tanah itu satu perpisahan

Kepada dua yang tergoda

Disaksikan tanah itu pula jutaan yang menunduk

Kepada hening yang meminta maaf

 

Langit malam ini mulia

Dan kau ditatap dekat sekali

Ia memuja mu di hadapan ciptaan yang paling mulia

Kepada kau yang melantunkan puji

Semalaman

 

Padang itu bergetar

Menimbun doa-doa yang mengalir menyiraminya

Lapang

Walau lekat dengan isak

 

Disaksikan tanah itu satu pertemuan

Kepada mereka yang sempat tersesat

Disaksikan tanah itu pula nuansa hari nanti

Apa aku siap?

Aksara Rabu: Kapan Berganti by Talitha Amalia Zafira

Dalam haru aku bertanya kepada biru, "Kenapa tak kunjung pudar air matamu?"

Katakan pada jingga bahwa aku mendamba rona nya

Serta senyum yang bermandi merah jambu

 

Dibalut ungu yang terbelenggu ragu

Aku menyapa putih dengan tertatih

"Kapan hijau berbunga lagi untukku?"

 

Candra dan Pelita by Talitha Amalia Zafira

"Kau yang pertama mengajakku bangun

dan membuka harapan

Dalam selimut masih kupejamkan mimpi yang lekat

tidak ingin ku buka"

 

Fajar itu

Candra meminta kepada Pelita

Agar mau membukakan pintu harapannya

Untuk menyelam di hari yang berbeda

 

Aksara Rabu: Harapan by Talitha Amalia Zafira

Muluk

Terlalu banyak ini itu yang aku mau

Sampai berhasil aku menjadikannya nyata

Sampai lupa yang menyenangkan itu apa

 

Sadar

Bukan stasiun kereta dunia yang aku tuju

Dengan sejuta pintunya yang kasar

Yang terus menjadikan kerongkongan ini haus

 

Tenang

Bukan ini itu yang aku harapkan

Disini fana

Disana nyata

 

-

Kepada yang terus menunggu

Agar mimpi-mimpi yang kau patri dalam doa

segera terwujud